Gunadarma University

Senin, 14 Maret 2016

STRATEGI BISNIS PERUSAHAAN



PT TELKOMSEL TBK
Telkomsel adalah operator telekomunikasi seluler GSM kedua di Indonesia setelah Satelindo dengan layanan pascabayar kartuHALO yang diluncurkan pada tanggal 26 Mei 1995. Saham Telkomsel dimiliki oleh Telkom Indonesia sebesar 65% dan sisanya oleh Singtel sebesar 35%. Telkomsel menjadi operator seluler pertama di Asia yang menawarkan layanan GSM prabayar.
Telkomsel mengklaim sebagai operator telekomunikasi seluler terbesar di Indonesia dengan 139,3 juta pelanggan per 31 Desember 2014 dan pangsa pasar sebesar 51% per 1 Januari 2007.[butuh rujukan] Jaringan Telkomsel telah mencakup 288 jaringan roaming internasional di 155 negara pada akhir tahun 2007.
Telkomsel telah menjadi operator seluler ketujuh di dunia yang mempunyai lebih dari 100 juta pelanggan dalam satu negara per Mei 2011.[1]
Telkomsel meluncurkan secara resmi layanan komersial mobile 4G LTE pertama di Indonesia. Layanan Telkomsel 4G LTE memiliki kecepatan data access mencapai 36 Mbps. [2]
Saat ini Telkomsel menggelar lebih dari 84.000 BTS yang menjangkau sekitar 98% wilayah populasi di Indonesia. Sebagai operator selular nomor 6 terbesar di dunia dalam hal jumlah pelanggan, Telkomsel merupakan pemimpin pasar industri telekomunikasi di Indonesia yang kini dipercaya melayani lebih dari 139 juta pelanggan pada tahun 2014. Dalam upaya memandu perkembangan industri telekomunikasi selular di Indonesia memasuki era baru layanan mobile broadband, Telkomsel secara konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi 3G, HSDPA, HSPA+, serta uji coba teknologi Long Term Evolution (LTE). Kini Telkomsel mengembangkan jaringan broadband di 100 kota besar di Indonesia. Untuk membantu pelayanan kebutuhan pelanggan, Telkomsel kini didukung akses call center 24 jam dan 430 pusat layanan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Telkomsel bekerja pada jaringan 900/1.800 MHz.
 
GERAKKAN PERTUMBUHAN EKONOMI, TELKOMSEL PERKUAT JARINGAN DI DAERAH PERBATASAN
Operator telekomunikasi Telkomsel berupaya memperkuat jaringan di daerah-daerah perbatasan negara dengan menghadirkan layanan pita lebar (broadband). Hal ini ditandai dengan beroperasinya 128 Base Transceiver Station (BTS) 3G di titik-titik perbatasan dan pulau terdepan.
Acara peresmian dipusatkan di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, di mana di lokasi tersebut Telkomsel mengaktifkan 10 BTS 3G tambahan yang mampu melayani kebutuhan akses broadband masyarakat setempat.
Kehadiran BTS Tekomsel di wilayah-wilayah perbatasan amat penting mengingat lokasi tersebut secara geopolitik sangat strategis dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat ini secara nasional, Telkomsel memiliki lebih dari 480 BTS (3G & 2G) di daerah perbatasan. "Di sisi lain, hadirnya BTS 3G di lokasi-lokasi perbatasan yang memungkinkan masyarakat setempat untuk menikmati layanan data juga diharapkan akan mampu mempercepat pertumbuhan perekonomian, membuka peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru," ujar Direktur Sales Telkomsel, Masud Khamid dalam keterangan resminya.
Dia mengatakan, penyediaan jaringan telekomunikasi di daerah perbatasan memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi beratnya medan yang harus ditempuh. "Namun daerah-daerah tersebut merupakan daerah yang strategis untuk menegaskan kedaulatan NKRI sehingga apapun tantangannya tidak menjadi halangan bagi kami untuk hadir," tegas Masud.
Dia menambahkan, peningkatan akses layanan data di daerah perbatasan diharapkan juga dapat membantu Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya dalam menunjang berbagai kegiatan operasional tentara yang bertugas di garda terdepan dalam menjaga keutuhan negara.
Dalam kesempatan ini Telkomsel juga memberikan bantuan sarana pendidikan untuk masyarakat serta sarana telekomunikasi untuk TNI di wilaperbatasan.
Saat ini BTS-BTS Telkomsel di daerah terdepan di antaranya berbatasan dengan negara Papua Nugini (Merauke dan Jayapura), Australia (Pulau Rote), Timor Leste (Atambua), Filipina (Sangihe), Malaysia (Sebatik-Nunukan), Singapura (Batam), dan Vietnam (Kepulauan Natuna).
VALUASI SAHAM PT TELKOMSEL
Valuasi saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dinilai kurang menarik. Selain secara fundamental tidak memberi perubahan berarti, analis menilai, harga wajar saham Telkom saat ini hanya Rp 5.300. Edwin Sinaga, analis PT Kuo Kapital Raharja mengatakan, dari sisi kinerja, performance Telkom tidak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia mengatakan, saat ini analis cenderung menilai saham TLKM itu kurang menarik dan potential upside-nya hanya terbatas. "Saham Telkom sudah tidak menarik lagi. Valuasinya terlampau mahal atau hanya Rp 5.300 dibanding harga saat ini," katanya. Lebih lanjut Edwin menilai, untuk perdagangan jangka pendek maupun jangka menengah, investor sebaiknya menghindari saham ini. Ia merekomendasi sell on strength TLKM. Lebih lanjut Edwin memaparkan, sampai saat ini belum ada informasi atau pun isu yang mampu mengangkat harga saham ini. Soal bisnis CDMA, papar dia, sejauh ini belum memberi implikasi berarti bagi kinerja TLKM. Hal senada diungkapkan Hendra Bujang, fund manager dari PT Suprasurya Assets Management. Menurut Hendra, ekspektasi kinerja TLKM untuk tahun 2005 diperkirakan akan stagnan dan belum ada perubahan berarti. Menurut Hendra, dengan kondisi itu, fund manager terlihat membatasi pembelian terhadap saham TLKM. "Ini masih berlangsung lama," katanya singkat. Lebih lanjut Hendra memaparkan, ekspektas yang kurang menggebirakan itu beradampak pada prediksi valuasi. Menurut dia, valuasi saham TLKM saat ini terlampau mahal. Ini sangat berbeda dengan beberapa saham infrastruktur atau saham pertambangan yang menjadi incaran sejumlah fund manager. "Valuasi TLKM itu hanya 5.200-an. Ini sangat mahal dan hanya memberi potential upside kecil," katanya. Sama seperti Edwin, Hendra merekomendasi sell saham TLKM. Menurut dia, dengan ruang pergerakan yang sangat terbatas maka sanga sulit bagi seorang investor untuk memperoleh gain yang maksimal. "Apalagi saat ini, banyak fund manager yang menjual saham TLKM," katanya. Tak Ada Rugi Kurs Sementara itu, manajemen Telkom yakin tidak akan mengalami kerugian kurs pada tahun 2005. Direktur Keuangan Telkom Rinaldi Firmansyah menjelaskan, untuk menghilangkan potensi kerugian kurs, Telkom telah merestrukturisasi utang. Melalui restrukturissai utang ini, Telkom menargetkan komposisi utang rupiah dan dolar AS menjadi fifty-fifty. Sebagai rangkaian upaya merestrukturisasi utang, Telkom telah menerbitkan medium term note (MTN) senilai Rp 1,125 triliun pada akhir tahun 2004. Penerbitan MTN juga diikuti dengan upaya pembayaran utang senilai US$ 112 juta. Rinaldi menargetkan, pada Juni 2005 utang Telkom dalam mata uang dolar AS tinggal sejumlah US$ 600 juta. Terkait rugi kurs, Telkom mencatat kerugian cukup besar pada kuartal II 2004. Saat itu Telkom membukukan rugi valas Rp 870 miliar. Angka tersebut, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 384 miliar. Di sisi lain, Rinaldi menegaskan, reguler growth Telkom pada tahun 2004 sebesar 20% akan tercapai. Demikian juga, pertumbuhan pendapatan 3%, sebagai dampak dari penyesuaian tarif juga akan terpenuhi. Pada tahun 2005, PT Telkom akan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 14 triliun. Capex tersebut merupakan capex konsolidasi antara Telkom dan anak perusahaan, sehingga nanti setengah capex untuk PT Telkomsel, dan setengah untuk induk perusahaan. Belanja modal Telkom, antara lain ditujukan untuk pengembangan backbone dan transmisi baru. Belanja modal juga akan digunakan untuk mendukung penambahan jumlah pelanggan Telkom Grup, yang ditargetkan mencapai 32 juta pelanggan pada tahun 2005. Dengan perincian, jumlah pelanggan Telkom 11 juta dan Telkomsel 21 juta. Kapasitas penjualan telepon tetap nirkabel (Flexi) direncanakan akan mencapai minimal 1,5 juta satuan sambungan flexi (SSF). Sedangkan, kapasitas penjualan telepon tetap (kabel) ditargetkan sebanyak 400 ribu satuan sambungan telepon (SST).

Indonesia Company Investment Analysis

PT BANK CENTRAL ASIA
BCA secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997.
Krisis ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara khusus, kondisi ini memengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lalu mengambil alih BCA pada tahun 1998.
Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif, BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998, dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun. Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia pada tahun 2000.
Selanjutnya, BCA mengambil langkah besar dengan menjadi perusahaan publik. Penawaran Saham Perdana berlangsung pada tahun 2000, dengan menjual saham sebesar 22,55% yang berasal dari divestasi BPPN. Setelah Penawaran Saham Perdana itu, BPPN masih menguasai 70,30% dari seluruh saham BCA. Penawaran saham kedua dilaksanakan di bulan Juni dan Juli 2001, dengan BPPN mendivestasikan 10% lagi dari saham miliknya di BCA.
Dalam tahun 2002, BPPN melepas 51% dari sahamnya di BCA melalui tender penempatan privat yang strategis. Farindo Investment, Ltd., yang berbasis di Mauritius, memenangkan tender tersebut. Saat ini, BCA terus memperkokoh tradisi tata kelola perusahaan yang baik, kepatuhan penuh pada regulasi, pengelolaan risiko secara baik dan komitmen pada nasabahnya baik sebagai bank transaksional maupun sebagai lembaga intermediasi finansial.
Indonesia Company Investment Analysis: PT Bank Central Asia Tbk (BCA)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) adalah bank yang fokus pada bisnis transaksi perbankan, memiliki total aset terbesar ketiga di Indonesia senilai Rp 408 triliun pada semester I 2012. Selain fokus pada bisnis transaksi perbankan, bank yang saat ini dimiliki oleh grup Djarum ini menyalurkan kredit dengan komposisi terbesar pada kredit komersial & usaha kecil menengah (UKM). Bank BCA juga menyalurkan kredit segmen korporasi dan segmen konsumer.
BANKING INDUSTRY OUTLOOK
Industri kredit perbankan di Indonesia tumbuh hampir 30% dalam periode empat tahun terakhir secara compounded annual growth rate (CAGR) 2007–2011. Penyaluran kredit oleh perbankan di Indonesia senilai Rp 2.200 triliun pada akhir 2011.
Pertumbuhan penyaluran kredit diiringi dengan menurunnya kredit macet (non performing loan/NPL) perbankan, menunjukkan manajemen risiko perbankan Indonesia yang solid dalam penyaluran kredit.
Pada sumber pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun oleh perbankan juga terus meningkat. Dana pihak ketiga tumbuh sebesar 22% secara CAGR pada tahun 2007–2011. Pertumbuhan DPK tersebut terdiri dari DPK berdenominasi rupiah dan valas yang masing-masing tumbuh sebesar 23% dan 19%.
Pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan selama empat tahun terakhir didukung oleh pertumbuhan dana murah. Komposisi current account saving account (CASA) terhadap dana pihak ketiga menjadi sebesar 56% pada tahun 2011, atau lebih tinggi dibandingkan periode tahun 2007. Kenaikan komposisi dana murah tersebut menjaga rasio CASA perbankan Indonesia stabil pada level 55%.
Saat ini Bank BCA berada pada urutan terbesar ketiga di Indonesia menurut total aset. Pada semester I 2012, Bank BCA memiliki aset senilai Rp 408,6 triliun. Selama periode ini Bank BCA menyalurkan kredit senilai Rp 226 triliun, dengan dana pihak ketiga yang berhasil dikumpulkan senilai Rp 341 triliun.
PERTUMBUHAN EKONOMI
Bank BCA yang fokus pada bisnis perbankan transaksi mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 11% menjadi senilai Rp 5,3 triliun pada semester I 2012. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 14% dan pendapatan non bunga yang tumbuh sebesar 12%.
Pertumbuhan pendapatan bunga ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh sebesar 41,5%. Pertumbuhan kredit lebih tinggi dibandingkan dana pihak ketiga yang tumbuh sebesar 19%, sehingga menopang kenaikan rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR). Pada semester I 2012, rasio LDR Bank BCA naik 960 basis poin menjadi 65,5%.
Pertumbuhan LDR tetap diimbangi dengan peningkatan kualitas aset. Hal ini terlihat dari rasio kredit macet (non performing loan/NPL) Bank BCA yang turun sebesar 20 basis poin menjadi 0,5% pada semester I 2012. Sementara itu, pertumbuhan pendapatan non bunga ditopang oleh fee based income, yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 18% menjadi senilai Rp 2,5 triliun. Fee based income memberikan kontribusi hingga 70% dari pendapatan non bunga Bank BCA.
Kenaikan beban bunga sebesar 5% menekan profitabilitas Bank BCA pada semester I 2012. Net interest margin (NIM), ukuran profitabilitas, turun 30 basis poin menjadi 5,3% pada semester I 2012.
Selain itu, tumbuhnya laba bersih bertolak belakang dengan produktivitas aset (return on asset/ROA) dan imbal hasil pemegang saham (return on equity/ ROE). ROA dan ROE Bank BCA masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 10 basis poin dan 180 basis poin pada semester I 2012.
Penurunan ROE seiring dengan penurunan margin laba bersih, serta produktivitas aset yang lebih rendah karena penyaluran kredit yang lebih agresif yang belum berkontribusi terhadap pertumbuhan tinggi pada laba bersih.
Aset tumbuh seiring dengan upaya ekspansi Bank BCA pada semester I 2012. Total kredit Bank BCA tumbuh 42% menjadi senilai Rp 225,9 triliun.
INVESTMENT HIGHLIGHT
1. Solid Transactional Banking
Bank BCA memiliki bisnis transaksi (transactional banking) yang menjadi salah satu sumber pendapatan berkesinambungan (fee based income). Fee based income mengontribusi sebesar 20% terhadap pendapatan operasional Perusahaan pada semester I 2012, yakni pendapatan yang mencakup pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya.
Transactional banking Bank BCA ditopang oleh jaringan kantor cadang dan layanan anjungan tunai mandiri (ATM). Fee based income, yakni pendapatan yang salah satunya diperoleh dari bisnis transaksi, tumbuh sebesar 18% pada semester I 2012, dengan nilai mencapai Rp 2,5 triliun.
2. Strong Bargaining Power to Collect Cheap Fund
Pertumbuhan tabungan masing 23% pada semester I 2012 menopang kenaikan rasio CASA Bank BCA. Pada semester I 2012, Bank BCA mencatatkan kenaikan rasio CASA sebesar 36 basis poin. Kenaikan rasio CASA menurunkan beban bunga tabungan sebesar 15% pada semester I 2012.
Pertumbuhan dana pihak ketiga berupa tabungan terjadi bahkan meski Bank BCA menurunkan suku bunga tabungan. Hal ini menunjukkan kesolidan daya tawar Bank BCA untuk menghimpun dana murah dari nasabah. Rasio CASA Bank BCA berada pada level tinggi, yakni mencapai 77,7%.
Dana murah yang diperoleh oleh Bank BCA akan memberi peluang bagi Perusahaan untuk memiliki profitabilitas yang tinggi untuk setiap kredit yang disalurkan di masa depan.
3. Pursuing Higher LDR Which will Generate More Interest Income
Upaya Bank BCA untuk mendorong posisi penyaluran kredit (loan to deposit ratio/LDR) memberikan peluang bagi pendapatan bunga yang lebih tinggi di masa depan.
Tahun lalu pendapatan bunga Bank BCA tumbuh 19% ketika LDR berada pada posisi 61,7%, naik dari 55,2%. Pada semester I 2012, pendapatan bunga tumbuh 11% dengan LDR berada pada level 65,5%.
Bank BCA melakukan ekspansi kredit di semua segmen. Pada semester I 2012 pertumbuhan tertinggi dicatatkan segment kredit konsumer, segmen kredit korporasi dan usaha kecil menengah (UKM).
4. Improved Asset Quality
Kualitas aset Bank BCA terjaga, hal ini terlihat dari penurunan rasio NPL (non performing loan/NPL) sebesar 20 basis poin menjadi 0,5% pada semester I 2012. Penurunan NPL meski Bank BCA mendorong kredit dengan lebih agresif, khususnya pada semester I 2012.
Kenaikan kualitas aset juga terlihat dari penurunan dana pencadangan (loan loss provision) sebesar 54% menjadi senilai Rp 55 miliar.


INVESTMENT RISK
1.  Low Loan to Deposit Ratio
Bank BCA merupakan salah satu dari sedikit bank dengan tingkat penyaluran kredit yang rendah. Masih rendahnya rasio penyaluran kredit terhadap total dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR), membuat Bank BCA menjadi perhatian Bank Indonesia.
Pada semester I 2012, Bank BCA mencatatkan rasio LDR sebesar 65,5%, atau jauh lebih rendah dari batas minimum LDR yang ditetapkan Bank Indonesia di level 78%.
2. Decline in NIM
Penurunan pendapatan bunga dari penempatan Sertifikat Bank Indonesia (SBI), menekan rasio net interest margin (NIM). Pada semester I 2012, rasio NIM Bank BCA turun sebesar 30 basis poin setelah pendapatan bunga SBI turun sebesar 49%.
Pendapatan bunga SBI memiliki kontribusi hingga 14% atau ketiga terbesar dari total pendapatan bunga pada semester I 2011, namun kontribusi tersebut turun hingga 6% pada semester I 2012.
3. High Valuation
Bank BCA memiliki valuasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sejumlah saham perbankan lainnya. Pada semester I 2012, Bank BCA memiliki rasio harga saham terhadap laba bersih (price to earning/ PE ratio) sebesar 16,7 kali, jauh diatas rata-rata industri yang sebesar 13 kali.
Sementara itu, valuasi menggunakan rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/ PBV) tercatat sebesar 4,2 kali untuk Bank BCA, juga berada di atas rata-rata industri yang hanya sebesar 2,6 kali.
4. Bank Indonesia Policy May Restrain Consumer Credit Growth
Kebijakan Bank Indonesia menaikkan kebijakan uang muka kredit kendaraan dan kredit property berpeluang menekan pertumbuhan kredit konsumer yang sedang diperbesar porsinya oleh Bank BCA.
http://duniaindustri.com/indonesia-company-investment-analysis-pt-bank-central-asia-tbk-bca/


SUPPLY CHAIN BAGI KEUNGGULAN KOMPETITIF INDONESIA MENYIKAPI AEC



PENTINGNYA STRATEGI SUPPLY CHAIN BAGI KEUNGGULAN KOMPETITIF INDONESIA MENYIKAPI AEC
Diberlakukan MEA 2015 bertujuan untuk menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi. Akan terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal, serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN.
Demikian dikemukakan Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat, dalam sambutannya pada acara buka puasa bersama dengan para stakeholder sektor industri, di kantor Kemenperin Jakarta, kemarin.
MEA 2015, lanjutnya, merupakan momen penting bagi Indonesia, karena berpeluang memperluas pasar bagi produk-produk industri nasional. Namun di sisi lain, pemberlakuan MEA 2015 juga akan menjadi tantangan, mengingat penduduk Indonesia yang sangat besar, tentunya akan menjadi tujuan pasar bagi produk-produk Negara ASEAN lainnya.
Dalam upaya menghadapi berbagai tantangan tersebut, Menperin mengharapkan dukungan dan sinergi dengan masyarakat khususnya dunia usaha. "Untuk itu, pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan daya saingnya. Agar produk-produk Indonesia mampu bersaing tidak hanya di pasar ASEAN, tetapi juga pasar dalam negeri," tutur dia.
Selanjutnya, dia berharap kerja sama antara Kementerian Perindustrian dengan Kadin, Asosiasi atau lembaga-lembaga lainnya lebih ditingkatkan. Sekaligus, disamakan persepsinya sebagai usaha untuk memperkokoh kekuatan daya saing, dalam rangka menghadapi pasar ASEAN.
Pada kesempatan itu, Menperin menyebutkan, di tengah kondisi perekonomian yang belum stabil, industri pengolahan non-migas sampai Triwulan I tahun 2014 mampu tumbuh sebesar 5,56 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,21 persen.
Cabang industri yang tumbuh tinggi di antaranya, industri makanan, minuman dan tembakau sebesar 9,47 persen, industri alat angkut, mesin dan peralatannya sebesar 6,03 persen, serta industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar 5,17 persen.
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2014 mencapai 14,83 miliar dolar AS atau mengalami peningkatan 3,73 persen dibandingkan April 2014 sebesar 14,30 miliar dolar AS. Peningkatan nilai ekspor Mei 2014 disebabkan oleh meningkatnya ekspor non-migas sebesar 12,45 miliar dolar AS atau naik 6,95 persen dibandingkan April 2014 sebesar 11,64 miliar dolar AS.
Sementara itu, beberapa produk nonmigas yang mengalami peningkatan ekspor, antara lain: produk kimia sebesar 104,1 juta dolar AS atau 96,56 persen, alas kaki sebesar 31,2 juta dolar AS atau 8,70 persen, dan kertas/karton sebesar 3,8 juta dolar AS atau 1,17 persen. Dari sisi volume, ekspor Indonesia pada Mei 2014 mengalami peningkatan 4,12 persen dibandingkan April 2014, yang disebabkan peningkatan volume ekspor nonmigas sebesar 4,99 persen. (Budi Seno)

Pentingnya strategi bersaing dalam menghadapi berbagai peluang dan tantangan pemberlakuan ASEAN Economic Community (AEC) pada UKM dan industri kreatif nasional, termasuk di dalamnya industri pakaian jadi yang telah mengalami krisis sejak era globalisasi dan pemberlakuan AFTA sebagai akibat dari peningkatan market share produk impor. Sementara, produk pakaian jadi memiliki siklus hidup produk yang singkat dan kondisi yang paling sulit adalah ketika produk pada fase dewasa. Strategi diferensiasi produk adalah strategi yang tepat untuk mencapai keunggulan bersaing pada saat produk berada pada fase dewasa. Tujuan dari kajian teoritis ini adalah menjabarkan strategi diferensiasi produk secara aplikatif untuk mempermudah UKM dan industri kreatif melakukan strategi bersaing melalui matriks strategi diferensiasi produk pada fase dewasa.
Pemberlakuan Asean Economic Community (AEC) 2015 akan menghadirkan sejumlah peluang dan tantangan setiap tatanan di Indonesia, terutama pada peningkatan kompleksitas dan dinamika persaingan UKM (Usaha Kecil Menengah) dan industri kreatif nasional sebagai sektor yang berkontribusi hingga 57,56% pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto nasional dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 96,99%, serta berkontribusi sebesar 15,68% dalam ekspor nonmigas.Industri pakaian jadi yang tergolong dalam sub sektor industri kreatif, saat ini
sedang mengalami krisis yang diakibatkan oleh tingginya dinamika persaingan sebagai wujud nyata dari era globalisasi, di mana pangsa pasar produk pakaian jadi impor di tanah air semakin meningkat dengan penetrasi pasar mencapai 60-40. Sebesar 50 persen pangsa pasar produk pakaian jadi di Indonesia telah diambil oleh produkimpor dari Cina dan 10 persen produk impor dari negara lain. (Ade, 2014)






PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, TBK

Indocement saat ini merupakan produsen semen terbesar kedua di Indonesia. Perseroan mengoperasikan unit-unit produksi terpadu, dengan total kapasitas produksi sebesar 15,4 juta ton klinker per tahun. Perseroan didirikan tahun 1985 dan saat ini memiliki 12 pabrik, sembilan diantaranya berlokasi di Citeureup, Bogor, Jawa Barat; dua di Palimanan, Cirebon, Jawa Barat dan satu di Tarjun,
Kotabaru, Kalimantan Selatan. Produk utama Perseroan adalah Semen Portland Tipe I (Ordinary Portland Cement). Perseroan juga memproduksi semen tipe lain, seperti Semen Portland Tipe II dan Tipe V, Semen Sumur Minyak (Oil Well Cement), dan Semen PortlandPozzolan (Portland  Pozzolan Cement). Indocement saat ini merupakan satu-satunya produsen Semen Putih di Indonesia. Pada tahun 2001, HeidelbergCement Group, salah satu produsen semen kelas dunia yang berpusat di Jerman dan beroperasi di 50 negara, menjadi pemegang saham mayoritas Perseroan. Sejak saat itu, Perseroan berupaya untuk meraih kembalikondisi keuangan yang sehat sebagaimana pada masa sebelum krisis moneter di Asia. Dengan dukungan keahlian bertaraf internasional yang dimiliki HeidelbergCement Group di bidang teknik, keuangan dan pemasaran dengan jaringan global, Indocement kembali memusatkan kegiatannya di bisnis inti sebagai produsen semen, dengan tujuan untuk mencapai kondisi keuangan yang kuat. Pada tahun 2003, total penjualan Perseroan mencapai lebih dari Rp4 triliun. Saham Indocement tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Pada akhir tahun 2003, jumlah karyawan Perseroan mencapai lebih dari 7.100 orang.

perolehan dari penjualan aset non-inti. Pada akhir tahun 2003, seluruh aset non-inti Perseroan telah berhasil dijual, sejalan dengan strategi Perseroan untuk lebih memusatkan diri pada bisnis inti sebagaimana telah disampaikan dalam laporan tahunan yang lalu. Dengan langkah-langkah di atas Indocement berhasil mempertahankan tingkat profitabilitas di tengah persaingan yang sangat ketat. Kondisi pasar yang sulit menuntut komitmen dan fokus sepenuhnya untuk mempertahankan keunggulan disetiap bidang usaha Indocement. Kami dengan senang hati melaporkan kemajuan yang dicapai Indocement di bidang Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance - GCG) sebagai kebijakan pengelolaan perusahaan secara sehat dan bertanggung jawab. Kami tunduk pada kewajiban moral maupun hukum untuk mematuhi semua peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Manajemen risiko merupakan salah satu aplikasi kunci GCG. Indocement telah memperluas cakupan manajemen risikonya. Secara keseluruhan, risiko Perseroan masih dapat dikendalikan, sekalipun terdapat banyak tantangan. Indocement telah berada pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan
finansial secara berkelanjutan sebagaimana digariskan sejak tiga tahun yang lalu. Komisaris senantiasa memantau kegiatan Perseroan sebagaimana dilaporkan oleh Direksi. Komisaris juga telah membentuk Komite Kompensasi yang terpisah dari struktur Komite Audit, untuk melengkapi perangkat pengendalian manajemen yang ada saat ini. Tahun 2004, Indonesia memasuki tahun pemilihan umum, dimana untuk pertama kalinya Bangsa Indonesia akan memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Kita semua berharap bahwa proses demokrasi ini akan mengantarkan Bangsa dan Negara Indonesia ke era pertumbuhan dan kemakmuran yang baru

Pembangunan pabrik ke 14 di Kompleks Pabrik Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akan menambah kapasitas 4,4 juta ton semen per tahun bagi PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk.
Selain untuk mengantisipasi meningkatnya pasar, ekspansi kapasitas itu juga disebutkan untuk mempertahankan keunggulan kompetitif perusahaan tersebut.
Direktur Utama Indocement Daniel Lavalle di Jakarta, (25/3/2013), mengatakan, pabrik ke 14 tersebut akan menambah kapasitas sebanyak 4,4 juta ton semen. Sehigga, total kapasitas Indocement nantinya menjadi 25 juta ton semen per tahun.
Hal tersebut disampaikan Daniel di sela penandatanganan perjanjian antara PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk dengan Tianjin Cement Industry Design and Research Institute Co. Ltd dalam penyediaan peralatan serta engineering bagi proyek pabrik ke 14 itu.
Pabrik baru dengan nilai sekitar Rp 5,5 triliun-Rp 6,5 triliun yang dibangun untuk mengantisipasi terus meningkatnya permintaan semen di pasar tersebut diharapkan siap beroperasi pada kuartal ketiga tahun 2015.      
Hal tersebut menunjukan bahwa indocement merupakan perusahaan yang cukup unggul dalam persaingan pasar. Yang dapat terus meningkatkan pertumbuhan ekoni yang sangat pesat. Indocement mampu memperluas produksi semennya untuk dapat memenuhi permintaan pasar yang sangat besar. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/03/25/19055342/twitter.com
Valuasi saham PT Indocement Tunggal Prakasa dengan metode Dividend Discount Model, Price Earning Ratio dan Free Cash Flow To Equity
Investasi adalah komitmen penempatan sejumlah dana pada periode tertentu untuk mencapai tingkat imbal-hasil (rate of return) yang diinginkan. Konsep dasar dari investasi terdiri dari tingkat return yang diharapkan, tingkat risiko dan hubungan antara return dan risiko. Saham biasa adalah salah satu bagian dari asset financial. Valuasi merupakan teknik yang sering digunakan dalam suatu proses penialain kesehatan perusahaan yang bertujuan untuk mengetahui kondisi perusahaan. Pada penelitian ini PT. Indocement Tunggal Prakarsa menjadi pilihan dalam penulisan tesis ini. Permasalahan yang akan dibahas dalam tesis ini adalah apakah harga saham PT. Indecement Tunggal Prakarsa saat ini overvalued atau undervalued serta kelayakan investasi pada saham PT. Indocement Tunggal Prakarsa. Metode yang digunakan sebagai dasar analisis untuk penilaian harga saham adalah dividend discount model, price earning ratio dan free cash flow to equity. Pada analisis ini juga dilakukan perhitungan tingkat growth dan return yang diisyaratkan oleh investor (cost of equity) sebagai dasar proyeksi. Hasil penelitian adalah: Dengan dividend discount model, harga saham adalah Rp. 255.51, Dengan price earning ratio, harga saham adalah Rp. 3,139.91, Dengan free cash flow to equity, harga saham adalah Rp. 479.22. Dari hasil penelitian diatas, ada beberapa saran. Untuk perusahaan: Meningkatkan pertumbuhan perusahaan, Penjadwalan kembali pembayaran hutang perusahaan. Untuk investor: Mengambil posisi jual untuk saham Indocement. Untuk penelitian selanjutnya: Menggunakan tambahan metode lain seperti price to book value atau analisis teknikal, Melakukan perbandingan valuasi saham perusahaan dengan perusahaan industry sejenis



ANALISIS PENGARUH INFLASI DAN BI RATE TERHADAP HARGA SAHAM PT. INDOCEMENT TUNGGAL PERKASA

 

Inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum yang terjadi terus menerus yang mampu mempengaruhi keadaan perekonomian negara tersebut. BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia. Inflasi dan BI Rate yang terjadi di suatu Negara mampu mempengaruhi keadaan perekonomian Negara tersebut. Saham merupakan bukti ikut serta dalam kepemilikian suatu perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inflasi dan BI Rate terhadap harga saham PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. Metode yang digunakan adalah uji penyimpangan asumsi klasik, analisis regresi linear berganda untuk mengetahui seberapa besar pengaruh inflasi dan BI Rate terhadap harga saham PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. dan koefisien korelasi untuk menganalisis hubungan inflasi dan BI Rate terhadap harga saham PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. periode 2006-2010. Berdasarkan uji hipotesis secara simultan diperoleh hasil bahwa inflasi dan BI Rate memiliki pengaruh secara bersama-sama terhadap harga saham. Karena nilai F-hitung (34,687) lebih besar daripada F-tabel (3,158843). Secara parsial Inflasi tidak memiliki pengaruh terhadap harga saham. Karena nilai t-hitung (1,056) lebih kecil daripada t-tabel (2,002465) dan tingkat signifikan (0,295) lebih besar dari 0,05. Sedangkan secara parsial BI Rate memiliki pengaruh terhadap harga saham karena nilai t-hitung (-5,059) lebih kecil dari t-tabel (2,002465) tetapi tingkat signifikan (0,000) lebih kecil dari 0,05. Koefisien korelasi untuk Inflasi sebesar -0,589 menyatakan bahwa inflasi memiliki hubungan kuat dan tidak searah terhadap harga saham yang berarti saat Inflasi mengalami kenaikan, maka harga saham akan mengalami penurunan. Korelasi BI Rate sebesar -0,735 menyatakan bahwa BI Rate memiliki hubungan sangat kuat dan tidak searah terhadap harga saham yang berarti saat BI Rate mengalami kenaikan, maka harga saham akan mengalami penurunan. Koefisien determinasi diperoleh nilai sebesar 0,549 yang artinya inflasi dan BI Rate mempengaruhi harga saham Indocement sebesar 54,9% sedangkan sisanya 45,1% dipengaruhi oleh faktor lainnya.